Studi islam Dengan pendekatan Psikologi
Pendahuluan
Pendahuluan
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang
mempelajari masalah-masalah kejiwaan manusia yang tercermin dalam prilaku yang
nyata. Objek formal psikologi adalah jiwa manusia. Jiwa manusia bersifat
abstrak, karena itu untuk memenuhi unsur psikologi sebagai ilmu pengetahuan,
maka psikologi mempelajari gejala-gejala jiwa manusia yang tampak secara lahir.
Layaknya disiplin ilmu yang lain, disiplin ilmu psikologi dapat dipakai untuk
mengkaji gejala keberagamaan masyarakat, termasuk di dalamnya masyarakat
muslim.
Apa yang dikaji oleh studi Islam menggunakan
pendekatan psikologi adalah hubungan antara agama dengan jiwa manusia. Hubungan
ini dikaji melalui gejala jiwa manusia yang lahir dalam tingkah-laku dalam
hubungannya dengan agama Islam.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa agama sangat mempengaruhi jiwa penganutnya. Jiwa tersebut dapat diamati dengan mengamati tingkah lakunya dengan menggunakan pendekatan psikologis. Bagian ilmu psikologi yang memfokuskan kajiannya pada jiwa manusia dalam hubungannya dengan agama disebut dengan psikologi agama. Lebih lanjut, psikologi agama dapat dikatakan sebagai hasil dari studi keagamaan yang menggunakan pendekatan psikologis. Makalah ini akan mengkaji dan menjelaskan lebih lanjut tentang pendekatan psiokologis dalam studi Islam.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa agama sangat mempengaruhi jiwa penganutnya. Jiwa tersebut dapat diamati dengan mengamati tingkah lakunya dengan menggunakan pendekatan psikologis. Bagian ilmu psikologi yang memfokuskan kajiannya pada jiwa manusia dalam hubungannya dengan agama disebut dengan psikologi agama. Lebih lanjut, psikologi agama dapat dikatakan sebagai hasil dari studi keagamaan yang menggunakan pendekatan psikologis. Makalah ini akan mengkaji dan menjelaskan lebih lanjut tentang pendekatan psiokologis dalam studi Islam.
B. Pengertian Psikologi dan Studi Islam
Psikologi adalah sebuah istilah yang dipergunakan
untuk merujuk bentukan halus dalam diri manusia yang tidak terlihat dan hanya
dapat dirasakan. Sesuatu yang tidak tampak itu menimbulkan kesulitan tersendiri
dalam memberikan definisi yang tepat. Secara bahasa, psikologi berasal dari
bahasa Inggris Psychology yang berasal dari bahasa
Yunani Psyche yang artinya jiwa, dan logos yang berarti
ilmu pengetahuan.[1]
Jadi, psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Baik mengenai
macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya, dengan singkat
disebut ilmu jiwa.
Karena beragamnya para ahli dalam mendefinisikan
pengertian psikologi, maka penulis hanya mengutip dua pakar yang mewakili dalam
pendefinisian psikologi. Menurut Plato dan Aristotes bahwa psikologi
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya
sampai akhir. Sedangkan menurut Morgan, C.T. King bahwa psikologi adalah ilmu
yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan. Berbeda halnya dalam khazanah
keilmuan Islam bahwa psikologi tidak semata sebagai ilmu yang membahas perilaku
sebagai fenomena kejiwaan belaka melainkan dibahas dalam konteks sistem
kerohanian yang memiliki hubungan vertikal dengan Allah. [2]
Sedangkan studi islam atau studi keislaman (Islamic
studies) merupakan suatu disiplin ilmu yang membahas Islam, baik sebagai
ajaran, kelembagaan, sejarah maupun kehidupan umatnya. Dimaklumi
bahwa Islam sebagai agama dan sistem ajaran telah menjalani proses
akulturasi, transmisi dari generasi ke generasi dalam rentang waktu yang
panjang dan dalam ruang budaya yang beragam. Pola kajian yang
dikembangkan dalam studi ini adalah upaya kritis terhadap teks, sejarah, doktrin,
pemikiran dan istitusi keislaman dengan menggunakan pendekatan-pendektan
tertentu, seperti Kalam, Fiqh, fisafat, tasawuf, historis, antropologis,
sosiologis, psikologis, yang secara populer di kalangan akademik dianggap
ilmiah.
Dengan pendekatan ini kajian tidak disengajakan
untuk menemukan atau mempertahankan keimanan atas kebenaran suatu konsep atau
ajaran tertentu, melainkan mengkajinya secara ilmiah, yang terbuka ruang
di dalamnya untuk ditolak, diterima, maupun dipercaya
kebenarannya. Kajian dengan pendekatan semacam ini banyak dilakukan oleh
para orientalis atau islamis yang memposisikan diri sebagai outsider (pengkaji
islam daru luar) dan insider (pengkaji dari kalangan muslim) dalam studi
keislaman kontemporer.[3]
Obyek formal telaah psikologi adalah manusia dan
obyek materialnya adalah tingkah laku manusia. Sedangkan keberadaan manusia
telah banyak dibahas didalam Al-Qur'an diantaranya adalah tentang sifat-sifat
dan potensinya. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan dalam bentuk yang
paling sempurna dibanding makhluk lainnya. Kesempurnaan manusia ini
dibuktikan dengan pemberian akal yang dapat digunakan untuk membedakan yang
baik dan yang buruk, benar dan salah. Manusia dianjurkan mencari kebenaran
untuk menjalani hidup di dunia dan di akhirat kelak karena secara alamiah
manusia mempunyai potensi diri. Proses aktualisasi potensi itu merupakan
pencapaian tujuan akhir pendidikan Islam. Islam dapat dilihat mempunyai dua
komponen, yaitu ibadah (aktifitas penyembahan) dan mu'amalah (interaksi dengan
sesama manusia).[4] Keduanya terjalin secara erat dan saling
berkaitan dalam banyak hal. Interaksi dengan sesama dan keterkaitan atas
keduanya yang dipengaruhi oleh perasaan, pikiran dan kemauan yang dimiliki oleh
manusia akan menghasilkan pengakuan yaitu pengakuan atas keberadaan dan
tanggung jawabnya sebagai abdullah dan khalifah.
Manusia
bebas menentukan tingkah lakunya berdasarkan pikiran, perasaan, dan kemauannya,
namun pada saat yang bersamaan, manusia juga bertanggung jawab terhadap
lingkungan alam, manusia, dan Tuhannya. Tanggung jawabnya terhadap alam adalah
untuk melestarikannya, tanggung jawabnya terhadap sesama manusia adalah
mensejahterakannya, dan tanggung jawab terhadap Tuhan adalah untuk mencari
Ridla-Nya.
Islam
sebagai petunjuk tentang ketundukan total kepada Allah dimaksudkan tidak hanya
bagi orang-orang tertentu, tetapi bagi seluruh umat manusia. Universalisme
Islam ini berarti bahwa semua manusia, baik sesama individu, sesama kelompok,
maupun sesama bangsa adalah sama dihadapan Allah. Seseorang atau kelompok tidak
dinilai berdasarkan keturunan atau kesempurnaan fisik seseorang tetapi
berdasarkan keimanan, kehidupan yang lebih baik, dan perhatiannya kepada
kesejahteraan orang lain.[5]
- Aliran-Aliran
Dalam Psikologi
1.
Aliran Strukturalisme
(Structuralism) Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya
psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri. Pada masa itu, tercatat satu
aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psikologi
strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt. Seperti tercermin dalam namanya,
aliran ini berpendapat bahwa untuk mempelajari gejala kejiwaan, kita harus
mempelajari isi dan struktur kejiwaan. Ciri-ciri dari psikologi strukturalisme
Wundt adalah penekanannya pada analisis atas proses kesadaran yang dipandang
terdiri atas elemen¬-elemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang
membawahi hubungan antar elemen kesadaran tersebut.
2.
Aliran Fungsionalisme
(Functional Psychology). Aliran psikologi ini pada intinya merupakan
doktrin bahwa proses atau keadaan sadar seperti kehendak bebas, berpikir, beremosi,
memersepsi, dan mengindrai adalah aktivitas-aktivitas atau operasi-operasi dari
sebuah organisme dalam kesalinghubungan fisik dengan sebuah lingkungan fisik
dan tidak dapat diberi eksistensi yang penting. Aktivitas ini memudahkan
kontrol organisme, daya tahan hidup, adaptasi, keterikatan atau penarikan diri,
pengenalan, pengarahan, dan lain-lain. Seluruh organisme dapat dianalisis
sebagai sebuah sistem umpan batik dan stimulus respons.
3.
Aliran
Psikoanalisis. Tokohnya yaitu Freud, Freud merangsang studi yang intensif
tentang emosi, yaitu cinta, takut, cemas, dan seks. Dalam soal seks, teori
Freud yang menyatakan bahwa satu-satunya hal yang mendorong kehidupan manusia
adalah dorongan id (libido seksualita), mendapat tantangan keras. Dalam libido
seksualitas, seseorang berusaha mempertahankan eksistensinya karena bermaksud
memenuhi hasrat seksualnya. Teori ini dipandang menyederhanakan kompleksitas
dorongan hidup yang ada dalam diri manusia. teori Freud hanya menjelaskan
adanya kebutuhan yang paling mendasar dari manusia, Seksualitas, bagi Freud,
merupakan daya hidup. Libido, istilah Freud, merupakan life instinct yang
memberi motivasi manusia untuk makan, minum, beristirahat, dan prokreasi. Kaum
agama dan sebagian intelektual, dengan sisa pengaruh Victorian yang kuat waktu
itu mencaci (teori) Freud yang pen-seksual habis-habisan.
4.
Aliran Psikologi
Gestalt (Gestalt Psychology). istilah Gestalt tetap digunakan
sebagaimana adanya dalam bahasa Inggris dan juga oleh kalangan para ahli
psikologi di Indonesia. Eksperimen Gestalt pertama, menurut Atkinson dan
kawan-kawan, adalah mempelajari gerakan, Jika dua cahaya dinyalakan secara
berurutan (asalkan waktu dan lokasi spasialnya tepat), subjek melihat cahaya
tunggal bergerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua. Fenomena kesan
pergerakan ini telah banyak diketahui, tetapi ahli psikologi Gestalt menangkap
kepentingan teoretis pola stimuli dalam menghasilkan efek. Pengalaman kita
bergantung pada pola yang dibentuk oleh stimuli dan pada organisasi pengalaman,
menurut mereka. Apa yang kita lihat adalah relatif terhadap latar belakang,
dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan berbeda dengan penjumlahan
bagian-bagiannya; keseluruhan terbagi atas bagian dari suatu hubungan.
5.
Aliran
Behaviorisme (Behaviorism). Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam
psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan
oleh Burrhus Frederic Skinner. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap
introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan
subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang
tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja
yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, kaum behavioris
lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku
manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar.
6.
Aliran Psikologi
Kognitif. Psikologi kognitif adalah pendekatan psikologi yang memusatkan
perhatian pada cara kita merasakan, mengolah, menyimpan, dan merespons
informasi. Pendekatan kognitif dapat diterapkan pada hampir semua bidang
psikologi.
7.
Aliran Psikologi
Humanistik. Psikologi humanistik berkembang sebagai pemberontakan terhadap yang
dianggap sebagian ahli psikologi sebagai keterbatasan psikologi perilaku dan
psikodinamika. Aliran humanistik bertujuan memulihkan keseimbangan dalam
psikologi dengan berfokus pada kebutuhan-kebutuhan manusia dan pengalaman
manusia biasa lewat sesedikit mungkin teori. Pendekatan humanistik sering
disebut "kekuatan ketiga" dalam psikologi. Tokoh yang paling
berpengaruh, yaitu Carl Rogers dan Abraham Maslow. Tujuan psikologi humanistik
adalah membantu manusia memutuskan apa yang dikehendakinya dan membantu
memenuhi potensinya. Artinya, praktek humanistik dalam terapi pendidikan atau
di tempat kerja, selalu dipusatkan untuk menciptakan kondisi-kondisi agar
manusia dapat menentukan pikiran dan mengikuti tujuannya sendiri.[6]
- Problematika
Pendekatan Psikologi Dalam Studi Islam
Teori-teori
psikologi kontemporer banyak dikembangkan di negara-negara Barat yang mayoritas
penduduknya adalah penganut agama Kristen. Teori-teori ini lah yang kemudian
diadopsi ke dalam psikologi agama yang digunakan dalam mengkaji studi Islam.
Teori-teori psikologi kontemporer yang berasal dari Barat dapat mengurangi
pengertian Islam dari keseluruhan pengertiannya, hingga menampilkan Islam
secara parsial atau tidak utuh. Selain itu, kerena titik berangkatnya
pembahasan ini adalah konsep psikologi, sehingga sering kali membuat kita
terjebak, yaitu memandang persoalan lebih berangkat dari pemahaman terhadap
psikologi dari pada Islamnya.
Sebagai
ilmu pengetahuan yang berkembang dan menemukan wujud epistemologi dan
metodologinya di barat, karena perbedaan metodologi dan sumber, teori-teori
psikologi agama masih belum cukup untuk menjelaskan fenomena keberagamaan
masyarakat Muslim yang dipengaruhi oleh berbagai aspek yang berpengaruh kepada
jiwa.
Sebagai
ilmu yang dibangun dan dikembangkan dalam masyarakat dan budaya Barat, maka
sangat mungkin kerangka pikir psikologi agama ini dipenuhi dengan
pandangan-pandangan atau nilai-nilai hidup masyarakat Barat. Kenyataan yang
sulit dibantah adalah psikologi lahir dengan didasarkan pada paham-paham
masyarakat Barat yang sekularistik. Tak jarang kita temui pandangan-pandangan
psikologi berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan Islam. Karena itu perlu
dirumuskan teori-teori yang lebih utuh, sesuai dengan metodologi ilmu
pengatahuan dalam Islam.[7]
- Pendekatan
Psikologi Dalam Studi Islam
Dalam
konteks studi islam, pendekatan terhadap psikologi islami yaitu mengungkapkan
bahwa yang dimaksud dengan psikologi dalam hubungannya dengan islam adalah
konsep psikologi modern yang telah kita kenal selama ini yang telah mengalami
proses filterisasi dan di dalamnya terdapat wawasan islam. Jadi, konsep-konsep
atau teori aliran-aliran psikologi modern kita terima secara kritis, menurut
pandangan ini, tugas kita adalah membuang konsep-konsep yang kontra atau yang
anti terhadap islam. Mereka berpandangan bahwa psikologi modern yang ada dan
yang kita kenal pada selama ini bisa saja kita sebut Islami asalkan sesuai
dengan pandangan islam. Salah satu aliran psikologi yang termasuk Islami adalah
psikologi Humanistik. Seorang pemikir psikologi Islam berpandangan bahwa
teori-teori Psikologi barat dapat kita manfaatkan dan dapat disebut psikologi
Islami asalkan praktiknya berwawasan Islam. Ia mengungkapkan bahwa konsep
tentang struktur kepribadian manusa yang dibangun oleh tokoh-tokoh modern
seperti alam sadar, pra sadar dan tak sadar (psikoanalisis), afeksi, konasi
& kognisi (Behavior) serta dimensi somatis, psikis dan neotik
(Humanistik) dll, dapat kita pandang sebagai Islam setelah semua unsur dalam
struktur kepribadian tersebut di ungkap dalam konsep ruh.
Dalam
pandangan psikologis humanistik, manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik
dari aspek kemauan, kebebasan, perasaan, dan pikiran untuk mengungkap makna
hidup dengan berdasarkan nilai-nilai ketauhidan sehingga manusia mampu
mengembangkan potensi dan kualitas hidup yang Islami. Oleh karena itu, konsep
tersebut mengintegrasikan hubungan piramida antara nafs, akal, dan hati ke
dalam konteks psikologis manusia dengan berdasarkan pada ajaran-ajaran wahyu.
Hubungan konsep psikologis humanistik tersebut, akan melahirkan kreatifitas
hidup sebagaimana yang telah dipesankan Tuhan dalam Al-Qur'an yaitu semangat
untuk berpikir, kemauan berbuat kebaikan dan menciptakan nilai-nilai
spritualitas yang tinggi demi kualitas hidup manusia secara universal.[8]
Ketika
manusia menghadapi alam semesta, maka manusia telah dapat mengetahui adanya dzat
yang maha suci lagi maha segalanya. Untuk mengetahui dzat yang Maha Pengasih
dan Penyayang, orang tidak perlu menunggu wahyu turun. Namun, dari
pengalaman-pengalaman yang pernah ia alami dan bahkan dapat dirasakan oleh
siapa pun, merupakan salah satu cara untuk mengenal dzat tersebut.
Oleh
karena itu, ajaran tauhid yang merupakan ajaran yang paling
mendasar dan penting dari Islam dapat dirasakan oleh siapapun. Dengan
demikian, penegasan terhadap kenyataan diri yang sesungguhnya bahwa penguasa
segala sesuatu adalah satu, namun tidak semata berarti suatu bilangan. KeEsaan
Allah diluar bilangan, ini untuk menjelaskan atas keistimewaan-Nya. Ke Esaan Allah akan terwujud dalam dunia sekeliling manusia,
dalam keharmonisan, keteraturan, dan keindahan ciptaannya tanpa adanya
sekat yeng memisahkan.[9]
Dasar
lain dari pengakuan adalah mengakui atas kerasulan Muhammad SAW, wahyu, dan
kitab suci. Salah satu ajaran dasar lain dalam Islam ialah bahwa manusia itu
berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Islam berpendapat bahwa hidup
manusia di dunia ini tidak bisa terlepas dari hidup manusia di akhirat. Bahwa
lebih dari itu, corak hidup manusia di dunia ini menentukan corak hidupnya di
akhirat kelak.[10] Prinsip-prinsip ajaran tersebut harus
dilakukan oleh umat Islam untuk mengembangkan kesadaran spritual untuk
meningkatkan kualitas dan potensi hidup secara Islami.
Semangat
konsep psikologis humanistik mengisi dan mengembangkan bahkan mengkritik
konsep-konsep barat yang cenderung mengedepankan konsep pemisahan agama dengan
ilmu pengetahuan. Manusia adalah sekumpulan kontradiksi, yaitu diciptakan
secara fitrah dalam keadaan beriman tetapi mereka juga memiliki kecenderungan
untuk mengikuti nafsu atau keinginan jasmaninya. Keadaan ini justru merupakan
kekuatan besar untuk melaksanakan tugas sebagai hamba dan khalifah karena akan
mudah menerima ajaran agama yaitu Islam, suatu agama yang sesuai dengan fitrah
kejadian manusia, agama yang mengatur hubungan manusia dan Tuhan, manusia
dengan sesamannya dan manusia dengan alam lainnya.[11]
- Contoh
Studi Islam Dengan Pendekatan Psikologis
Pendekatan
psikologis adalah pendekatan yang memfokuskan pencarian terhadap masalah
kejiwaan manusia. Karena itu, psikologi agama mencari tahu masalah kejiwaan dalam
hubungannya dengan agama. Ada beberapa contoh studi Islam yang dapat didekati
dengan pendekatan psikologis, antara lain:
1.
Tentang masalah
perasaan seorang ahli tasawwuf yang merasa bahwa Allah selalu dekat dengannya
dan hadir dalam hatinya dan ia melakukan zikir secara terus menerus dan secara
sadar. Masalah pokok dalam kajian ini adalah perasaan (dekat dengan Allah)
manusia (ahli tasawwuf) dan bagaimana perasaan tersebut muncul.
2.
Masalah lainnya
adalah masalah kepuasan seorang hamba terhadap kehidupannya. Di mana bisa
dibandingkan antara dua gejala yakni seorang yang sederhana tapi mempunyai
tingkat ibadah yang lebih tinggi dengan seorang yang cukup tapi mempunyai
tingkat ibadah yang rendah. Masalah pokok yang dicari adalah pengaruh tingkat
ibadah tersebut terhadap rasa puas dalam kehidupan.
Pendekatan
psikologis juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi kadar dan
tingkat ajaran Islam yang sesuai dengan tingkat umur seseorang. Hingga ajaran
Islam tidak berubah menjadi semata-mata sistim-sistim nilai tanpa teraplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari. Adapun kontribusi pendekatan psikologi agama dalam
studi Islam adalah:
1.
Untuk membantu
di dalam meneliti bagaimana latar belakang keyakinan beragama seorang muslim.
2.
Untuk membantu menyelesaikan
masalah-masalah keberagamaan seorang muslim, seperti penyakit mental dan
hubungannya dengan keyakinan beragama.
3.
Untuk mengetahui
bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya dan bagaimana pengaruh hubungan
tersebut terhadap prilaku dan cara berpikir.
Selain itu, psikologi agama juga telah digunakan sebagai cara pengobatan sakit jiwa dan mental di rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan. Hal itu dikarenakan psikologi agama dapat digunakan sebagai alat pembina jiwa dan mental manusia.[12]
Selain itu, psikologi agama juga telah digunakan sebagai cara pengobatan sakit jiwa dan mental di rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan. Hal itu dikarenakan psikologi agama dapat digunakan sebagai alat pembina jiwa dan mental manusia.[12]
- Kesimpulan
Potensi
manusia yang berupa pikiran, perasaan, dan kemauan yang diaktualkan kepada
pengakuan tentang ke Esaan Allah bukanlah sebagai argumentasi filosofis
melaikan penegasan bahwa manusia memang mengakuinya. Demikianlah mereka
mengikuti seruan Allah. Tauhid berarti pengetahuan bahwa Allah sebagai
satu-satunya penguasa yang berkuasa atas alam semesta. Pengetahuan ini bukanlah
hasil dari kepercayaan tetapi ia adalah dasar kepercayaan. Kesadaran akan
tauhid adalah bagian dari pengetahuan yang Allah ciptakan dalam diri setiap
manusia pada sifat fitrahnya.
Islam
adalah kepastian mutlak atas ke Esaan Allah. Keimanan dan ke Esaan Allah menunjukkan persatuan makhluk, kemanusiaan dan
umat Islam. Ini adalah kerangka dimana agama dan moralitas harus ditetapkan.
Iman dalam analisa akhir merupakan suatu analisa sikap. Seorang dapat menjadi
muslim dan akan hidup dalam kedamaian ditengah masyarakat, tetapi jika
seseorang tidak memiliki keimanan ia adalah seorang munafik.
DAFTAR
PUSTAKA
Baharuddin. 2004. Paradigma Psikologi Islam,
Studi Tentang Elemen Psikologi Dari Al-Qur'an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hadi Fauzan, 2013. Tarbiyah 'Ala Dawam_
Pendekatan Psikologis Dalam Studi Islam.Html, diakses pada 15 November
2015.
Langgulung, Hasan. 1992. Teori-teori Kesehatan
Mental. Jakarta : Pustaka al-Husna.
M. Ayoub, Mahmoud. 2004. Islam: Antara Keyakinan
& Praktik Ritual, Refleksi Cendikiawan Muslim Untuk Kesadaran dan Kesatuan
Umat. Yogyakarta : AK. Group.
Miftah. http://miftah19.wordpress.com/2010/04/18/berbagai-cara-pendekatan-studi-islam-bag-1/.
diakses pada 15 November 2015.
Muliadi, Erlan. 2011. Pendekatan Psikologi Dalam
Pengkajian Dan Pemahaman Studi Islam.Html, diakses pada 15 November 2015.
Nasution, Harun. 1985. Islam Ditinjau Dari
Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Pres.
Rahman Shaleh, Abdul & Abdul Wahab, Muhib. 2005.
Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. Jakarta: Prenada
Media.
Saifuddin Anshari, Endang. 2004. Wawasan Islam,
Pokok-pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sisitem Islam. Jakarta : Gema
Insani.
[1] Abdul Rahman Shaleh & Muhib
Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, (Jakarta:
Prenada Media, 2005), hlm. 1
[2] Abdul Rahman Shaleh & Muhib
Abdul Wahab, Psikologi, hlm. 5-6.
[3] Miftah, http://miftah19.wordpress.com/2010/04/18/berbagai-cara-pendekatan-studi-islam-bag-1/,
diakses pada 15 November 2015.
[4] Mahmoud M. Ayoub, Islam:
Antara Keyakinan & Praktik Ritual, Refleksi Cendikiawan Muslim Untuk
Kesadaran dan Kesatuan Umat, (Yogyakarta : AK. Group, 2004), hlm. 125.
[5] Baharuddin, Paradigma
Psikologi Islam, Studi Tentang Elemen Psikologi Dari al-Qur'an, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, Cet. I, 2004), hlm. 160.
[6] Erlan Muliadi_ Pendekatan
Psikologi Dalam Pengkajian Dan Pemahaman Studi Islam.Html, diakses pada 15
November 2015.
[7] Hadi Fauzan, Tarbiyah 'Ala
Dawam_ Pendekatan Psikologis Dalam Studi Islam.Html, diakses pada 15
November 2015.
[8] Hasan Langgulung, Teori-teori
Kesehatan Mental, (Jakarta : Pustaka al-Husna, 1992), hlm. 202.
[9] Mahmoud M. Ayoub, Islam, hlm.
12-13
[10] Harun Nasution, Islam
Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Pres, Jilid I, 1985),
hlm. 30.
[11] Endang Saifuddin Anshari, Wawasan
Islam, Pokok-pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sisitem Islam, (Jakarta
: Gema Insani, 2004), hlm. 36.
[12] Hadi Fauzan, Tarbiyah 'Ala
Dawam_ Pendekatan Psikologis Dalam Studi Islam.Html, diakses pada 15
November 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar