Sabtu, 21 November 2015

makalah Studi Islam P.P

Studi islam Dengan pendekatan Psikologi
Pendahuluan
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang  mempelajari masalah-masalah kejiwaan manusia yang tercermin dalam prilaku yang nyata. Objek formal psikologi adalah jiwa manusia. Jiwa manusia bersifat abstrak, karena itu untuk memenuhi unsur psikologi sebagai ilmu pengetahuan, maka psikologi mempelajari gejala-gejala jiwa manusia yang tampak secara lahir. Layaknya disiplin ilmu yang lain, disiplin ilmu psikologi dapat dipakai untuk mengkaji gejala keberagamaan masyarakat, termasuk di dalamnya masyarakat muslim.
Apa yang dikaji oleh studi Islam menggunakan pendekatan psikologi adalah hubungan antara agama dengan jiwa manusia. Hubungan ini dikaji melalui gejala jiwa manusia yang lahir dalam tingkah-laku dalam hubungannya dengan agama Islam.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa agama sangat mempengaruhi jiwa penganutnya. Jiwa tersebut dapat diamati dengan mengamati tingkah lakunya dengan menggunakan pendekatan psikologis. Bagian ilmu psikologi yang memfokuskan kajiannya pada jiwa manusia dalam hubungannya dengan agama disebut dengan psikologi agama. Lebih lanjut, psikologi agama dapat dikatakan sebagai hasil dari studi keagamaan yang menggunakan pendekatan psikologis. Makalah ini akan mengkaji dan menjelaskan lebih lanjut tentang pendekatan psiokologis dalam studi Islam.

B.     Pengertian Psikologi dan Studi Islam
Psikologi adalah sebuah istilah yang dipergunakan untuk merujuk bentukan halus dalam diri manusia yang tidak terlihat dan hanya dapat dirasakan. Sesuatu yang tidak tampak itu menimbulkan kesulitan tersendiri dalam memberikan definisi yang tepat. Secara bahasa, psikologi berasal dari bahasa Inggris Psychology yang berasal dari bahasa Yunani Psyche yang artinya jiwa, dan logos yang berarti ilmu pengetahuan.[1] Jadi, psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya  maupun latar belakangnya, dengan singkat disebut ilmu jiwa.
Karena beragamnya para ahli dalam mendefinisikan pengertian psikologi, maka penulis hanya mengutip dua pakar yang mewakili dalam pendefinisian psikologi. Menurut Plato dan Aristotes  bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir. Sedangkan menurut Morgan, C.T. King bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan. Berbeda halnya dalam khazanah keilmuan Islam bahwa psikologi tidak semata sebagai ilmu yang membahas perilaku sebagai fenomena kejiwaan belaka melainkan dibahas dalam konteks sistem kerohanian yang memiliki hubungan vertikal dengan Allah. [2]
Sedangkan studi islam atau studi keislaman (Islamic studies) merupakan suatu disiplin ilmu yang membahas Islam, baik sebagai ajaran, kelembagaan, sejarah maupun kehidupan umatnya.  Dimaklumi  bahwa Islam sebagai agama dan  sistem ajaran telah  menjalani proses akulturasi, transmisi dari generasi ke generasi dalam rentang waktu yang panjang dan dalam  ruang budaya yang beragam. Pola kajian yang dikembangkan dalam studi ini adalah upaya kritis terhadap teks, sejarah, doktrin, pemikiran dan istitusi keislaman dengan menggunakan pendekatan-pendektan tertentu, seperti Kalam, Fiqh, fisafat, tasawuf, historis, antropologis, sosiologis, psikologis, yang secara populer di kalangan akademik dianggap ilmiah.
Dengan pendekatan ini kajian tidak disengajakan untuk menemukan atau mempertahankan keimanan atas kebenaran suatu konsep atau ajaran tertentu, melainkan mengkajinya secara ilmiah, yang terbuka ruang  di dalamnya  untuk ditolak, diterima, maupun dipercaya  kebenarannya. Kajian dengan pendekatan semacam ini banyak dilakukan oleh para orientalis atau islamis yang memposisikan diri sebagai outsider (pengkaji islam daru luar) dan insider (pengkaji dari kalangan muslim) dalam studi keislaman kontemporer.[3]
Obyek formal telaah psikologi adalah manusia dan obyek materialnya adalah tingkah laku manusia. Sedangkan keberadaan manusia telah banyak dibahas didalam Al-Qur'an diantaranya adalah tentang sifat-sifat dan potensinya. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan dalam bentuk yang paling sempurna dibanding makhluk lainnya. Kesempurnaan manusia ini dibuktikan dengan pemberian akal yang dapat digunakan untuk membedakan yang baik dan yang buruk, benar dan salah. Manusia dianjurkan mencari kebenaran untuk menjalani hidup di dunia dan di akhirat kelak karena secara alamiah manusia mempunyai potensi diri. Proses aktualisasi potensi itu merupakan pencapaian tujuan akhir pendidikan Islam. Islam dapat dilihat mempunyai dua komponen, yaitu ibadah (aktifitas penyembahan) dan mu'amalah (interaksi dengan sesama manusia).[4] Keduanya terjalin secara erat dan saling berkaitan dalam banyak hal. Interaksi dengan sesama dan keterkaitan atas keduanya yang dipengaruhi oleh perasaan, pikiran dan kemauan yang dimiliki oleh manusia akan menghasilkan pengakuan yaitu pengakuan atas keberadaan dan tanggung jawabnya sebagai abdullah dan khalifah.
Manusia bebas menentukan tingkah lakunya berdasarkan pikiran, perasaan, dan kemauannya, namun pada saat yang bersamaan, manusia juga bertanggung jawab terhadap lingkungan alam, manusia, dan Tuhannya. Tanggung jawabnya terhadap alam adalah untuk melestarikannya, tanggung jawabnya terhadap sesama manusia adalah mensejahterakannya, dan tanggung jawab terhadap Tuhan adalah untuk mencari Ridla-Nya.
Islam sebagai petunjuk tentang ketundukan total kepada Allah dimaksudkan tidak hanya bagi orang-orang tertentu, tetapi bagi seluruh umat manusia. Universalisme Islam ini berarti bahwa semua manusia, baik sesama individu, sesama kelompok, maupun sesama bangsa adalah sama dihadapan Allah. Seseorang atau kelompok tidak dinilai berdasarkan keturunan atau kesempurnaan fisik seseorang tetapi berdasarkan keimanan, kehidupan yang lebih baik, dan perhatiannya kepada kesejahteraan orang lain.[5]
  1. Aliran-Aliran Dalam Psikologi
1.      Aliran Strukturalisme (Structuralism) Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri. Pada masa itu, tercatat satu aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psikologi strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt. Seperti tercermin dalam namanya, aliran ini berpendapat bahwa untuk mempelajari gejala kejiwaan, kita harus mempelajari isi dan struktur kejiwaan. Ciri-ciri dari psikologi strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atas proses kesadaran yang dipandang terdiri atas elemen¬-elemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antar elemen kesadaran tersebut.
2.      Aliran Fungsionalisme (Functional Psychology). Aliran psikologi ini pada intinya merupakan doktrin bahwa proses atau keadaan sadar seperti kehendak bebas, berpikir, beremosi, memersepsi, dan mengindrai adalah aktivitas-aktivitas atau operasi-operasi dari sebuah organisme dalam kesalinghubungan fisik dengan sebuah lingkungan fisik dan tidak dapat diberi eksistensi yang penting. Aktivitas ini memudahkan kontrol organisme, daya tahan hidup, adaptasi, keterikatan atau penarikan diri, pengenalan, pengarahan, dan lain-lain. Seluruh organisme dapat dianalisis sebagai sebuah sistem umpan batik dan stimulus respons.
3.      Aliran Psikoanalisis. Tokohnya yaitu Freud, Freud merangsang studi yang intensif tentang emosi, yaitu cinta, takut, cemas, dan seks. Dalam soal seks, teori Freud yang menyatakan bahwa satu-satunya hal yang mendorong kehidupan manusia adalah dorongan id (libido seksualita), mendapat tantangan keras. Dalam libido seksualitas, seseorang berusaha mempertahankan eksistensinya karena bermaksud memenuhi hasrat seksualnya. Teori ini dipandang menyederhanakan kompleksitas dorongan hidup yang ada dalam diri manusia. teori Freud hanya menjelaskan adanya kebutuhan yang paling mendasar dari manusia, Seksualitas, bagi Freud, merupakan daya hidup. Libido, istilah Freud, merupakan life instinct yang memberi motivasi manusia untuk makan, minum, beristirahat, dan prokreasi. Kaum agama dan sebagian intelektual, dengan sisa pengaruh Victorian yang kuat waktu itu mencaci (teori) Freud yang pen-seksual habis-habisan.
4.      Aliran Psikologi Gestalt (Gestalt Psychology). istilah Gestalt tetap digunakan sebagaimana adanya dalam bahasa Inggris dan juga oleh kalangan para ahli psikologi di Indonesia. Eksperimen Gestalt pertama, menurut Atkinson dan kawan-kawan, adalah mempelajari gerakan, Jika dua cahaya dinyalakan secara berurutan (asalkan waktu dan lokasi spasialnya tepat), subjek melihat cahaya tunggal bergerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua. Fenomena kesan pergerakan ini telah banyak diketahui, tetapi ahli psikologi Gestalt menangkap kepentingan teoretis pola stimuli dalam menghasilkan efek. Pengalaman kita bergantung pada pola yang dibentuk oleh stimuli dan pada organisasi pengalaman, menurut mereka. Apa yang kita lihat adalah relatif terhadap latar belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan berbeda dengan penjumlahan bagian-bagiannya; keseluruhan terbagi atas bagian dari suatu hubungan.
5.      Aliran Behaviorisme (Behaviorism). Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, kaum behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar.
6.      Aliran Psikologi Kognitif. Psikologi kognitif adalah pendekatan psikologi yang memusatkan perhatian pada cara kita merasakan, mengolah, menyimpan, dan merespons informasi. Pendekatan kognitif dapat diterapkan pada hampir semua bidang psikologi.
7.      Aliran Psikologi Humanistik. Psikologi humanistik berkembang sebagai pemberontakan terhadap yang dianggap sebagian ahli psikologi sebagai keterbatasan psikologi perilaku dan psikodinamika. Aliran humanistik bertujuan memulihkan keseimbangan dalam psikologi dengan berfokus pada kebutuhan-kebutuhan manusia dan pengalaman manusia biasa lewat sesedikit mungkin teori. Pendekatan humanistik sering disebut "kekuatan ketiga" dalam psikologi. Tokoh yang paling berpengaruh, yaitu Carl Rogers dan Abraham Maslow. Tujuan psikologi humanistik adalah membantu manusia memutuskan apa yang dikehendakinya dan membantu memenuhi potensinya. Artinya, praktek humanistik dalam terapi pendidikan atau di tempat kerja, selalu dipusatkan untuk menciptakan kondisi-kondisi agar manusia dapat menentukan pikiran dan mengikuti tujuannya sendiri.[6]
  1. Problematika Pendekatan Psikologi Dalam Studi Islam
Teori-teori psikologi kontemporer banyak dikembangkan di negara-negara Barat yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Kristen. Teori-teori ini lah yang kemudian diadopsi ke dalam psikologi agama yang digunakan dalam mengkaji studi Islam. Teori-teori psikologi kontemporer yang berasal dari Barat dapat mengurangi pengertian Islam dari keseluruhan pengertiannya, hingga menampilkan Islam secara parsial atau tidak utuh. Selain itu, kerena titik berangkatnya pembahasan ini adalah konsep psikologi, sehingga sering kali membuat kita terjebak, yaitu memandang persoalan lebih berangkat dari pemahaman terhadap psikologi dari pada Islamnya.
Sebagai ilmu pengetahuan yang berkembang dan menemukan wujud epistemologi dan metodologinya di barat, karena perbedaan metodologi dan sumber, teori-teori psikologi agama masih belum cukup untuk menjelaskan fenomena keberagamaan masyarakat Muslim yang dipengaruhi oleh berbagai aspek yang berpengaruh kepada jiwa.

Sebagai ilmu yang dibangun dan dikembangkan dalam masyarakat dan budaya Barat, maka sangat mungkin kerangka pikir psikologi agama ini dipenuhi dengan pandangan-pandangan atau nilai-nilai hidup masyarakat Barat. Kenyataan yang sulit dibantah adalah psikologi lahir dengan didasarkan pada paham-paham masyarakat Barat yang sekularistik. Tak jarang kita temui pandangan-pandangan psikologi berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan Islam. Karena itu perlu dirumuskan teori-teori yang lebih utuh, sesuai dengan metodologi ilmu pengatahuan dalam Islam.[7]
  1. Pendekatan Psikologi Dalam Studi Islam
Dalam konteks studi islam, pendekatan terhadap psikologi islami yaitu mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan psikologi dalam hubungannya dengan islam adalah konsep psikologi modern yang telah kita kenal selama ini yang telah mengalami proses filterisasi dan di dalamnya terdapat wawasan islam. Jadi, konsep-konsep atau teori aliran-aliran psikologi modern kita terima secara kritis, menurut pandangan ini, tugas kita adalah membuang konsep-konsep yang kontra atau yang anti terhadap islam. Mereka berpandangan bahwa psikologi modern yang ada dan yang kita kenal pada selama ini bisa saja kita sebut Islami asalkan sesuai dengan pandangan islam. Salah satu aliran psikologi yang termasuk Islami adalah psikologi Humanistik. Seorang pemikir psikologi Islam berpandangan bahwa teori-teori Psikologi barat dapat kita manfaatkan dan dapat disebut psikologi Islami asalkan praktiknya berwawasan Islam. Ia mengungkapkan bahwa konsep tentang struktur kepribadian manusa yang dibangun oleh tokoh-tokoh modern seperti alam sadar, pra sadar dan tak sadar (psikoanalisis), afeksi, konasi & kognisi (Behavior) serta dimensi somatis, psikis dan neotik (Humanistik) dll, dapat kita pandang sebagai Islam setelah semua unsur dalam struktur kepribadian tersebut di ungkap dalam konsep ruh.
Dalam pandangan psikologis humanistik, manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik dari aspek kemauan, kebebasan, perasaan, dan pikiran untuk mengungkap makna hidup dengan berdasarkan nilai-nilai ketauhidan sehingga manusia mampu mengembangkan potensi dan kualitas hidup yang Islami. Oleh karena itu, konsep tersebut mengintegrasikan hubungan piramida antara nafs, akal, dan hati ke dalam konteks psikologis manusia dengan berdasarkan pada ajaran-ajaran wahyu. Hubungan konsep psikologis humanistik tersebut, akan melahirkan kreatifitas hidup sebagaimana yang telah dipesankan Tuhan dalam Al-Qur'an yaitu semangat untuk berpikir, kemauan berbuat kebaikan dan menciptakan nilai-nilai spritualitas yang tinggi demi kualitas hidup manusia secara universal.[8]
Ketika manusia menghadapi alam semesta, maka manusia telah dapat mengetahui adanya dzat yang maha suci lagi maha segalanya. Untuk mengetahui dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang, orang tidak perlu menunggu wahyu turun. Namun, dari pengalaman-pengalaman yang pernah ia alami dan bahkan dapat dirasakan oleh siapa pun, merupakan salah satu cara untuk mengenal dzat tersebut.
Oleh karena itu, ajaran tauhid yang merupakan ajaran yang paling mendasar dan penting dari Islam dapat dirasakan oleh siapapun. Dengan demikian, penegasan terhadap kenyataan diri yang sesungguhnya bahwa penguasa segala sesuatu adalah satu, namun tidak semata berarti suatu bilangan. KeEsaan Allah diluar bilangan, ini untuk menjelaskan atas keistimewaan-Nya. Ke Esaan Allah akan terwujud dalam dunia sekeliling manusia, dalam keharmonisan, keteraturan, dan keindahan ciptaannya tanpa adanya sekat yeng memisahkan.[9]
Dasar lain dari pengakuan adalah mengakui atas kerasulan Muhammad SAW, wahyu, dan kitab suci. Salah satu ajaran dasar lain dalam Islam ialah bahwa manusia itu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Islam berpendapat bahwa hidup manusia di dunia ini tidak bisa terlepas dari hidup manusia di akhirat. Bahwa lebih dari itu, corak hidup manusia di dunia ini menentukan corak hidupnya di akhirat kelak.[10] Prinsip-prinsip ajaran tersebut harus dilakukan oleh umat Islam untuk mengembangkan kesadaran spritual untuk meningkatkan kualitas dan potensi hidup secara Islami.
Semangat konsep psikologis humanistik mengisi dan mengembangkan bahkan mengkritik konsep-konsep barat yang cenderung mengedepankan konsep pemisahan agama dengan ilmu pengetahuan. Manusia adalah sekumpulan kontradiksi, yaitu diciptakan secara fitrah dalam keadaan beriman tetapi mereka juga memiliki kecenderungan untuk mengikuti nafsu atau keinginan jasmaninya. Keadaan ini justru merupakan kekuatan besar untuk melaksanakan tugas sebagai hamba dan khalifah karena akan mudah menerima ajaran agama yaitu Islam, suatu agama yang sesuai dengan fitrah kejadian manusia, agama yang mengatur hubungan manusia dan Tuhan, manusia dengan sesamannya dan manusia dengan alam lainnya.[11]




  1. Contoh Studi Islam Dengan Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis adalah pendekatan yang memfokuskan pencarian terhadap masalah kejiwaan manusia. Karena itu, psikologi agama mencari tahu masalah kejiwaan dalam hubungannya dengan agama. Ada beberapa contoh studi Islam yang dapat didekati dengan pendekatan psikologis, antara lain:
1.      Tentang masalah perasaan seorang ahli tasawwuf yang merasa bahwa Allah selalu dekat dengannya dan hadir dalam hatinya dan ia melakukan zikir secara terus menerus dan secara sadar. Masalah pokok dalam kajian ini adalah perasaan (dekat dengan Allah) manusia (ahli tasawwuf) dan bagaimana perasaan tersebut muncul.
2.      Masalah lainnya adalah masalah kepuasan seorang hamba terhadap kehidupannya. Di mana bisa dibandingkan antara dua gejala yakni seorang yang sederhana tapi mempunyai tingkat ibadah yang lebih tinggi dengan seorang yang cukup tapi mempunyai tingkat ibadah yang rendah. Masalah pokok yang dicari adalah pengaruh tingkat ibadah tersebut terhadap rasa puas dalam kehidupan.
Pendekatan psikologis juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi kadar dan tingkat ajaran Islam yang sesuai dengan tingkat umur seseorang. Hingga ajaran Islam tidak berubah menjadi semata-mata sistim-sistim nilai tanpa teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun kontribusi pendekatan psikologi agama dalam studi Islam adalah:
1.      Untuk membantu di dalam meneliti bagaimana latar belakang keyakinan beragama seorang muslim.
2.      Untuk membantu menyelesaikan  masalah-masalah keberagamaan seorang muslim, seperti penyakit mental dan hubungannya dengan keyakinan beragama.
3.      Untuk mengetahui bagaimana hubungan manusia dengan Tuhannya dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut terhadap prilaku dan cara berpikir.
Selain itu, psikologi agama juga telah digunakan sebagai cara pengobatan sakit jiwa dan mental di rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan. Hal itu dikarenakan psikologi agama dapat digunakan sebagai alat pembina jiwa dan mental manusia.[12]




  1. Kesimpulan
Potensi manusia yang berupa pikiran, perasaan, dan kemauan yang diaktualkan kepada pengakuan tentang ke Esaan Allah bukanlah sebagai argumentasi filosofis melaikan penegasan bahwa manusia memang mengakuinya. Demikianlah mereka mengikuti seruan Allah. Tauhid berarti pengetahuan bahwa Allah sebagai satu-satunya penguasa yang berkuasa atas alam semesta. Pengetahuan ini bukanlah hasil dari kepercayaan tetapi ia adalah dasar kepercayaan. Kesadaran akan tauhid adalah bagian dari pengetahuan yang Allah ciptakan dalam diri setiap manusia pada sifat fitrahnya.
Islam adalah kepastian mutlak atas ke Esaan Allah. Keimanan dan ke Esaan Allah menunjukkan persatuan makhluk, kemanusiaan dan umat Islam. Ini adalah kerangka dimana agama dan moralitas harus ditetapkan. Iman dalam analisa akhir merupakan suatu analisa sikap. Seorang dapat menjadi muslim dan akan hidup dalam kedamaian ditengah masyarakat, tetapi jika seseorang tidak memiliki keimanan ia adalah seorang munafik.
















DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin. 2004. Paradigma Psikologi Islam, Studi Tentang Elemen Psikologi Dari Al-Qur'an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hadi Fauzan, 2013. Tarbiyah 'Ala Dawam_ Pendekatan Psikologis Dalam Studi Islam.Html, diakses pada 15 November 2015.
Langgulung, Hasan. 1992. Teori-teori Kesehatan Mental. Jakarta : Pustaka al-Husna.
M. Ayoub, Mahmoud. 2004. Islam: Antara Keyakinan & Praktik Ritual, Refleksi Cendikiawan Muslim Untuk Kesadaran dan Kesatuan Umat. Yogyakarta : AK. Group.
Muliadi, Erlan. 2011. Pendekatan Psikologi Dalam Pengkajian Dan Pemahaman Studi Islam.Html, diakses pada 15 November 2015.
Nasution, Harun. 1985. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Pres.
Rahman Shaleh, Abdul & Abdul Wahab, Muhib. 2005. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. Jakarta: Prenada Media.
Saifuddin Anshari, Endang. 2004. Wawasan Islam, Pokok-pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sisitem Islam. Jakarta : Gema Insani.




[1] Abdul Rahman Shaleh & Muhib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2005), hlm. 1
[2] Abdul Rahman Shaleh & Muhib Abdul Wahab, Psikologi, hlm. 5-6.
[4] Mahmoud M. Ayoub, Islam: Antara Keyakinan & Praktik Ritual, Refleksi Cendikiawan Muslim Untuk Kesadaran dan Kesatuan Umat, (Yogyakarta : AK. Group, 2004), hlm. 125.
[5] Baharuddin, Paradigma Psikologi Islam, Studi Tentang Elemen Psikologi Dari al-Qur'an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. I, 2004), hlm. 160.
[6] Erlan Muliadi_ Pendekatan Psikologi Dalam Pengkajian Dan Pemahaman Studi Islam.Html, diakses pada 15 November 2015.
[7] Hadi Fauzan, Tarbiyah 'Ala Dawam_ Pendekatan Psikologis Dalam Studi Islam.Html, diakses pada 15 November 2015.
[8] Hasan Langgulung, Teori-teori Kesehatan Mental, (Jakarta : Pustaka al-Husna, 1992), hlm. 202.
[9] Mahmoud M. Ayoub, Islam, hlm. 12-13
[10] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Pres, Jilid I, 1985), hlm. 30.
[11] Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam, Pokok-pokok Pikiran Tentang Paradigma dan Sisitem Islam, (Jakarta : Gema Insani, 2004), hlm. 36.
[12] Hadi Fauzan, Tarbiyah 'Ala Dawam_ Pendekatan Psikologis Dalam Studi Islam.Html, diakses pada 15 November 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar