PENDAHULUAN
Guru
sebagai pendidik ataupun pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha
pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaruan kurikulum,
pengadaan alat- alat belajar sampai pada kriteria sumber daya manusia yang dihasilkan oleh usaha
pendidikan, selalu bermuara pada guru. Hal ini menunjukan betapa signifikan
(berarti penting) posisi guru dalam dunia pendidikan.
Kemudian
selain dari segi pentingnya posisi guru, guru juga dituntut untuk dapat
memenuhi sebagai syarat kecakapan sebagai seorang guru. Guna mencapai proses pembelajaran
yang maksimal dan berkualitas. Maka dari itu dalam makalah ini akan membahas mengenai
syarat-syarat seorang guru.
PEMBAHASAN
A. Syarat-syarat Guru/Pendidik
1)
Hadis Abu Mas’ud Riwayat Muslim
عنْ
اَبِى مَسْعُوْدٍ اْلاَنْصَارِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَؤُمُّ
اْلقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ. فَاِنْ كَانُوْا فِى اْلقِرَاءَةِ
سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ. فَاِنْ كَانُوْا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً
فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً. فَاِنْ كَانُوْا فِى اْلهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ
سِلْمًا. وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِى سُلْطَانِهِ. وَلاَ يَقْعُدْ
فِى بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ اِلاَّ بِإِذْنِهِ. مسلم
Artinya : Dari Abu Mas'ud
Al-Anshariy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Yang mengimami suatu
kaum itu hendaklah orang yang lebih pandai (faham) tentang kitab Allah diantara
mereka. Apabila mereka itu di dalam kefahamannya sama, maka yang lebih
mengetahui diantara mereka tentang sunnah. Jika mereka itu sama dalam pengetahuannya
tentang sunnah, maka yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka itu sama dalam hal
hijrahnya, maka yang lebih dahulu diantara mereka masuk Islam. Dan janganlah
seseorang mengimami orang lain di dalam kekuasaannya. Dan janganlah ia duduk di
tempat kehormatannya yang berada di dalam rumahnya kecuali dengan
idzinnya". [HR. Muslim juz 1, hal. 465]
2)
Guru yang tidak profesional bisa
menghancurkan murid.
Hadis Abu Hurairah riwayat al-
Bukhăry, tentang jika suatu urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya; (
al-Kirmăny II, 4-6).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ القَوْمَ، جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ
فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ، فَقَالَ بَعْضُ القَوْمِ: سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا
قَالَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ لَمْ يَسْمَعْ، حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ
قَالَ: «أَيْنَ - أُرَاهُ - السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ» قَالَ: هَا أَنَا يَا
رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَإِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»،
قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: «إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ
أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»
Artinya :
Dari Abu Hurairah berkata: Ketika Nabi shallallahu
'alaihi wasallam berada dalam suatu majelis membicarakan suatu kaum, tiba-tiba
datanglah seorang Arab Badui lalu bertanya: "Kapan datangnya hari
kiamat?" Namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap melanjutkan
pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata; "beliau
mendengar perkataannya akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya
itu, " dan ada pula sebagian yang mengatakan; "bahwa beliau tidak
mendengar perkataannya." Hingga akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata: "Mana orang yang bertanya
tentang hari kiamat tadi?" Orang itu berkata: "saya wahai
Rasulullah!". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat". Orang
itu bertanya: "Bagaimana hilangnya amanat itu?" Nabi shallallahu
'alaihi wasallam menjawab: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya,
maka akan tunggulah terjadinya kiamat.
3)
Guru harus bersifat kasih kepada
anak didik.
Al-Quran surah ‘Ali ‘Imrăn ( 003)
: 159.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ
القَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ
وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ
يُحِبُّ المُتَوَكِّلِينَ
Artinya : Maka disebabkan rahmat
dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu
bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
عن ابن عباس رضي الله
عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لأشج عبد القيس
[ إن فيك خصلتين يحبهما الله : الحلم والأناة ] رواه مسلم:
Artinya: Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulallah Saw
bersabda kepada ‘’Abdul Qais yang terluka: “sesungguhnya didalam
dirimu ada dua sifat yang disukai oleh Allah yaitu: santun dan sabar”. (HR
Muslim)
4)
Guru hendaklah serius,
berbicara tertib, jelas dan sesuai dengan kemampuan murid, kalau
perlu tidak mengapa jika diulang-ulang.
Hadis Anas
Riwayat Al Bukhori.
عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا
حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ
عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا
Artinya :
Dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila berbicara diulangnya tiga kali hingga
dapat dipahami dan bila mendatangi kaum, Beliau memberi salam tiga kali.
5)
Guru tidak boleh
mempersulit anak didik.
Hadis Abu Burdah dari ayahnya, riwayat al-Bukhăry,
tentang larangan mempersulit peserta didik; ( al-Kirmăny XVI: 170).
عَنْ أَنَسٍ اِبْنِ
مَالِكٍ عَن النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يَسِّرُوْا وَلَا
تُعَسِّرُوْا وَبَشِّرُوْا وَلَا تَنَفَّرُوْا وَكَانَ يُحِبُّ الْتَخْفِيْفِ
وَالتَّيْسِرِ عَلَى النَّاسِ (رواه البخارى)
Artinya : Dari Anas bin Malik R.A. dari Nabi Muhammad SAW
beliau bersabda : Permudahkanlah dan jangan kamu persulit, dan bergembiralah
dan jangan bercerai berai, dan beliau suka pada yang ringan dan memudahkan
manusia (H.R Bukhori)
6) Pendidik
harus memberikan hak didiknya secara adil
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :
كَانَ يُعْطِيْ كُلَّ جُلُسَائِلِهِ بِنَصِبِهِ لَا يَحْسَبُ جَلِيْسُهُ أَنَّ
اَحَدًا أَكْرَمُ عَلَيْهِ مِنْهُ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيْ)
Artinya : Dari Ali R.A ia berkata : “Rasulullah SAW
selalu memberikan kepada setiap orang yang hadir dihadapan beliau, hak-hak
mereka (secara adil), sehingga diantara mereka tidak ada yang merasa paling
diistimewakan.” (H.R Tirmidzi)[1]
Menurut
Zakiah Daradjat dkk,
dalam Moh. Roqib dan
Nurfuadi. Seorang guru harus memenuhi beberapa persyaratan seperti di
bawah ini:
1. Bertakwa kepada Allah SWT
Guru, sesuai dengan tujuan ilmu pendidikan Islam, guru harus
bertakwa kepada Allah SWT, sebab ia adalah teladan bagi anak didiknya
sebagaimana
Rasulullah SAW. Menjadi teladan bagi umatnya.
2. Berilmu
Ijazah bukan semata-mata secarik
kertas, tetapi suatu bukti, bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan
dan kesanggupan tertentu yang diperlukan untuk suatu jabatan. Guru pun harus
mempunyai ijazah agar ia diperbolehkan mengajar.
3. Sehat Jasmani
Kesahatan jasmani kerapkali
dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Kita
juga kenal ucapan “mens sana in corpon
sano”, yang artinya dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat.
Kesehatan bagi seorang guru sangat penting. Jika guru kurang sehat akan
menghambat pelaksana pendidikan.
4. Berkelakuan Baik
Budi pekerti guru penting dalam
pendidikan watak anak didik. Guru harus menjadi teladan, karena anak-anak
bersifat suka meniru. Dari tujuan pendidikan yaitu membentuk akhlak yang mulia
pada diri pribadi anak didik dan ini hanya mungkin bisa dilakukan jika pribadi
guru berakhlak mulia pula. Yang dimaksud akhlak mulia dalam ilmu ilmu
pendidikan islam adalah akhlak yang sesuai dengan ajaran islam, seperti contoh
oleh pendidik utama, Nabi Muhammad SAW. Di antara akhlak mulia guru tersebut
adalah mencintai jabatannya sebagai guru, bersikap adil terhadap semua anak
didiknya, berlaku sabar dan tenang, berwibawa, gembira, bersifat manusiawi,
bekerjasama dengan guru-guru lain, bekerjasama dengan masyarakat.[2]
B. Sifat-Sifat Pendidik
Syarat-Syarat
seperti yang telah uraikan di atas adalah syarat-syarat yang umum, yang sangat
berhubungan dengan jabatan guru di dalam
masyarakat. Disamping syarat-syarat tersebut, tentu saja masih banyak lagi syarat-syarat yang harus dimiliki oleh guru. Diantaranya
sifat seorang guru yang akan menjadi suatu hal yang akan memberikan hasil yang lebih baik. Berikut ini
akan diuraikan beberapa sifat guru yang
erat hubungannya dengan tugas guru di
sekolah.
1. Adil.
Seorang guru harus adil, misalnya
dalam memperlakukan anak-anak didiknya, harus dengan cara yang sama. Ia tidak
membedakan anak yang cantik, atau anak
saudaranya sendiri, anak orang berpangkat , atau anak yang menjadi
kesayangannya. Perlakuan yang adil itu, perlu bagi guru. Misalnya dalam hal
memberi nilai dan menghukum anak.
2. Percaya dan suka kepada murid-muridnya.
Seorang guru harus percaya kepada anak didiknya. Ini berarti bahwa guru
harus mengakui bahwa anak-anak adalah mahkluk yang mempunyai kemauan,mempunyai
kata hati sebagai daya jiwa untuk menyesali perbuatannya yang buruk dan
menimbulkan kemauan untuk mencegah perbuatan yang buruk.
Jans lighthart, seorang ahli didik yang
terkenal,pernah berkata,’’semua pendidikan haruslah didasarkan atas keyakinan
bahwa anak itu mempunyai kata hati. Jika keyakinan itu tidak ada, tidak
perlulah orang mendidik.Orang yang lemah
dapat dijadikan kuat; orang bodoh dapat dijadikan pandai ,tetapi orang yang
tidak punya kata hati tak mungkin diperbaiki.’’
3. Sabar dan rela berkorban
Hampir pada tiap-tiap pekerjaan,
kesabaran merupakan syarat yang sangat diperlukan,apalagi pekerjaan guru sbagai
pendidik. Sifat sabar harus dipunyai
oleh guru, baik dalam melakukan tugas mendidik maupun dalam menanti hasil dari jerih payahnya. Hasil
pekerjaan tiap-tiap dalam mendidik seorang anak tidak dapat ditunjukan dan tidak dapat dilihat dengan seketika
4. Memiliki perbawa (gezag) terhadap
anak-anak
Tanpa adanya gezag pada pendidik, tidak mungkin pendidikan itu dapat masuk kedalam hati sanubari anak-anak. Tanpa
kewibawaan, murid-murid hanya akan menuruti kehendak dan perintah gurunya
karena takut atau karena paksaan. Jadi bukan karena keinsafan atau karena
kesadaran di dalam dirinya
5. Penggembira
Seorang guru hendaklah memiliki
sifat suka tertawa dan suka memberi kesempatan tertawa kepada murid-muridnya.
Sifat ini banyak gunanya bagi seorang guru, antara lain ia akan tetap memikat
perhatian anak-anak pada waktu mengajar, anak-anak tidak lekas bosan atau
merasa lelah.
Akan tetapi, humor hendaklah
jangan digunakan untuk menjajah atau menguasai kelas. Sehingga dengan humor itu, guru menjadi bertele-tele, melantur, lupa
akan apa yang seharusnya diberikan dalam pelajaran itu.
6. Bersikap baik terhadap guru-guru
lainnya.
Tingkah laku dan budi pekerti
anak-anak, sangat banyak dipengaruhi
oleh suasana di kalangan guru-guru. Jika guru-guru saling bertentangan,
tidak mungkin dapat diambil sikap dan tindakan yang sama. Anak-anak tidak tahu
apa yang dibolehkan dan apa yang dilarang. Suasana baik di antara guru-guru,
nyata dari pergaulan ramah-tamah mereka di dalam dan di luar sekolah. Mereka
saling menolong dan kunjung-mengunjungi dalam keadaan suka dan duka. Mereka
merupakan satu keluarga besar, keluarga sekolah.
7. Bersikap baik terhadap masyarakat
Pernah di singgung, bahwa tugas dan
kewajiban guru tidak hanya terbatas pada sekolahnya saja, tetapi juga di dalam
masyarakat. Seorang guru yang merasa
cukup dengan pekerjaan dilingkungan
sekolah saja, tentu akan kurang luas pandangannya. Mungkin ia akan dihinggapi
suatu ‘’penyakit’’ merasa didinya yang terpandai, yang selalu betul, yang
sangat dihormati, dan sebagainya. Penyakit demikian akan menyukarkannya untuk
bergaul dalam masyarakat, karena pergaulan orang harus menghormati pendapat
orang lain, biarpun pendapat yang berlawanan dengan pendapatnya sekalipun.
8. Benar-benar menguasai mata
pelajarannya
Guru harus selalu menambah
pengetahuannya. Mengajar tidak dapat dipisahkan dari belajar. Guru yang
pekerjaannya memberikan pengetahuan-pengetahuan dan kecakapan-kecakapan kepada
murid-muridnya, tidak mungkin akan berhasil baik jika guru itu sendiri tidak
selalu berusaha menambah pengetahuannya.
Jadi, sambil mengajar,sebenarnya guru ittu pun belajar.
9. Berpengetahuan Luas
Selain mempunyai pengetahuan yang dalam
tentang mata pelajaran yang sudah menjadi tugasnya, akan lebih baik lagi jika
guru itu mengetahui pula tentang segala sesuatu yang penting-penting, yang ada
hubungannya dengan tugasnya di dalam masyarakat. Guru merupakan tempat bertanya
tentang segala sesuatu bagi masyarakat.
10. Seorang guru harus berlaku jujur dan
ikhlas dalam pekerjaannya.
Guru haruslah jujur dan menjaga
waktu murid-murid supaya jangan terbuang dengan percuma. Hendaklah guru datang
tepat waktu yang telah ditentukan.
11. Guru haruslah mengasihi
murid-muridnya seperti ia mengasihi anak-anaknya sendiri. Rasa kasih-sayang wajib ada pada
tiap-tiap individu seorang guru.[3]
PENUTUP
Pada intinya, beberapa persyaratan
untuk seorang Guru sebagai berikut: Pertama, guru harus mempunyai sikap dan
jiwa pemimpin, layaknya seorang imam dalam sholat. Kedua, guru harus profesional
dalam bidangnya, kalau tidak, maka datanglah kehancuran. Ketiga, guru harus
bersifat kasih sayang kepada anak didiknya sebagaimana Nabi yang mengajarkan
kasih sayang dan lemah lembut. Keempat, Guru hendaklah serius, berbicara
tertib, jelas dan sesuai dengan kemampuan murid. Kelima, Guru tidak mempersulit
anak didik.
http://yanah-wwwanahuulyahoo.co.id.blogspot.com/2013/05/hadist-tarbawy.html, diakses
pada tanggal 15 Oktober 2014 pukul 21.03 WIB
[2] Moh. Roqib dan
Nurfuadi, Kepribadian Guru, (Purwokerto: 2011, STAIN Press), Hlm.
112-114
Tidak ada komentar:
Posting Komentar